Filosofi Bubur Suro: Hubungan Tradisi dan Syekh Nawawi

Bubur Suro merupakan tradisi memasak yang dilakukan warga Pandeglang untuk memperingati 10 Muharram atau dalam kegiatan tahun baru Islam. Kegiatan memasak bubur Suro ini dilakukan merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh para leluhur. Pada mulanya bubur ini dihidangkan untuk memperingati awal bulan Sura atau Suro menurut kalender Jawa.





Burbur suro bukan sesajen sehingga menjadikan syarat mungkin ini menjadi suatu hal yang perlu kita ketahui. karena bubur suro menjadi syyarat dengan lambang dan harus dibaca dan dilihat sert adi tafsirkan dengan makna yang dalam. Selain disantap berama keluarga ubur suro ini menjadi tradisi seperti dibagikan ke masjid-masjid, kerabat terdekat dan sebagai bentuk kasih sayang dan juga disantap bersama merupakan suatu hal kebersamaan membentuk gotong royong. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Tradisi ini dilambangkan sebagai lamban rasa syukur kepada Allah SWT sebagai bentuk atas rezeki yang diperoleh. Kegiatan ini dilakukan sudah sejak Sultan Agung bertahta di Jawa. Ada beberapa sumber yang menjadi acuan bahwa tradisi Bubur Suro ini dulakukan untuk memperingati Nabi Nuh AS menurut Syekh Nawawi Banten. Berdasarkan kisah Nabi Nuh AS menyebutkan bahan makanan yang tersisa dan terkumpulah biji-bijian yang kemudian dimasak dengan rasa syukur karena telah banjir bandang.





Pada penyajiannya bubur Suro ini dibuat dalam dua bentuk yakni dengan racikan yang berbeda. Pertama, bubur putih dengan bahan beras, santan dan garam dan racikan tambahannya. Sedangkan yang kedua, merah dengan bahan beras, santan dan gula dan racikan tambahannya. Pada kenyataannya bubur Suro ini dinikmati dengan menggunakan daun pisang dan sendoknya pun menggunakan daun pisang yang disebut dengan Suru.

Bubur Suro dibagikan kepada hari ke 10 Muharram kepada orang terdekat seperti tetangga. Atau pada sebelum dibagikan masing-masing masyarakat membawa bubur ke mushola dan pemimpin kampung memimpin untuk meminta keberkahan dan dibagikan dengan acara saing tukar untuk menikmati hidangan satu sama lainnya. Berdasarkan kisah Nabi Nuh AS menyebutkan bahan makanan yang tersisa dan terkumpulah biji-bijian yang kemudian dimasak dengan rasa syukur karena telah banjir bandang untuk mengenang kejadian tersebut dan sebagai bentuk tabarrukan dan tafa’ulan dalam meneladani Nabi Nuh AS.
Wisata Cibaliung
Mengenalkan Budaya Indonesia dan Lokal | Berbagi Informasi Tentang Wisata

Related Posts

2 comments

Post a Comment